Hari Perasaan Campur Aduk

Judul tulisan yang sangat sangat tidak estetik ataupun puitis. Tapi cukup mendeskripsikan perasaan yang dirasakan di hari ini karena beberapa peristiwa yang terjadi. Rasanya seperti memakan bubur ayam yang sudah diaduk dimana rasa asin dari bumbu kuning dan bubur yang sudah ditaburi micin dan lada bercampur dengan gurihnya ayam suwir dan rasa pedas manis dari kecap asin yang sudah bercampur dengan sambal. Seperti itulah kurang lebih perasaan yang kurasakan hari ini, beberapa perasaan muncul dan bercampur aduk.

Bahagia.
Setelah beberapa tahun bekerja, sudah lama rasanya tidak merasakan ada di rumah di hari Senin pagi. Bahkan aku tidak ingat kapan terakhir kali mengambil cuti di hari Senin. Aku tidak harus menyiapkan mood untuk menjalani hari selama seminggu ke depan, tergesa-gesa mempersiapkan diri untuk berangkat kerja di hari Senin dan melalui perjalanan yang melelahkan karena harus berdesak-desakan di transportasi umum untuk dapat sampai di kantor. Karena yang kutahu, hari Senin adalah hari tersibuk dan terpaginya semua orang. Hari ini, tempatku bekerja mengeluarkan kebijakan WFA (work from anywhere) dikarenakan kondisi Kota Jakarta yang belum sepenuhnya kondusif akibat demo yang menuntut perubahan atas insentif DPR yang terjadi sejak tanggal 25 Agustus 2025 kemarin. Masih banyaknya aksi massa yang disertai dengan kekerasan dan vandalisme membuat kebijakan WFA akhirnya diberlakukan. Alhasil hari ini, satu kantor harus bekerja dari rumah atau lokasi lainnya yang aman dan harus melakukan absensi secara daring (online). Tentu aja, momen yang paling seru adalah ketika server milik kantor nge-down karena banyaknya pegawai yang mengakses website secara bersamaan. Hehehe. Sudah sering terjadi di banyak kantor pemerintah di kota-kota besar. Momen WFA ini menjadi salah satu momen yang membahagiakan buat mantan budak korporat di sektor perbankan yang biasanya diharuskan tetap bekerja meskipun ada bencana alam bahkan pandemi melanda sekalipun!

Sedih dan Takut. 
Hari ini aku berpisah dengan "Gendut". Beberapa hari ini dia memang agak nakal sih, karena pipis dimana-mana, mengeluarkan muntahan bulu di kolong mobil atau di teras rumah, sering mengambil makanan dari dapur atau meja makan ketika ayah/ibu lengah dan selalu berusaha menyelinap masuk ke rumah untuk naik ke lantai 2. Yap, untuk nyamperin kami yang kamarnya memang ada di lantai atas. Aku tahu sih mungkin maksudnya ingin main atau bermanja-manja. Mungkin kalau aku menemukan orang yang sudah membuat aman dan nyaman juga bakal begitu (jadi curhat). Tapi dan tapi, karena untuk saat ini, aku masih tinggal dengan orangtua dan Ayah keberatan untuk merawat "Gendut", akhirnya siang ini aku dan ayah "membuang" Gendut ke Gang Nangka. Mungkin karena dia sudah merasa aman, sewaktu ku masukkan ke dalam kandang portable, dia hanya diam dan menurut. Di sepanjang jalan pun dia tenang dan tidak ada perlawanan apapun. Jujur, berat banget hatiku harus membuang Gendut dan merelakan ia hidup di jalanan untuk seutuhnya jadi kucing jalanan.\

Sewaktu kami sampai di lokasi, dia cuma bisa melihat dengan tatapan bingung karena suasana dan lingkungannya yang berubah. Lalu kami pun pergi meninggalkan Gendut di sana untuk melanjutkan hidup. Sewaktu membawa Gendut di dalam kandang portable, aku merasa sudah sangat sedih dan tidak sanggup membantah permintaan Ayah. Setelah selesai membuang Gendut dan sampai kembali di rumah, barulah pecah semua perasaan yang dipendam dan pecah pula tangisanku (aku tahu ini agak berlebihan sih untuk menangisi seekor kucing). Betapa sulit berpisah dengan sesuatu yang sudah menemani dan kita rawat walau cuma sekedar memberi makan dan memandikan beberapa kali. Tapi, bertahun-tahun yang berlalu itu, membuat aku tetap mempunyai sisi manusia dan altruisme yang tidak bisa aku salurkan dan tampakkan ke manusia. Karena manusia seringkali salah menangkap kebaikan yang kita berikan, sedangkan para hewan adalah makhluk sederhana yang memberikan respin sesuai dengan tindakan yang kita tampakkan saja. 

Bahkan, pemikiranku sudah bercabang ke hal-hal lainnya. Seringkali aku menahan perasaan dan keinginanku hanya untuk memenuhi keinginan orang lain. Seringkali aku memendam sifat peduliku untuk terlihat cuek padahal sangat amat ingin memberikan bantuan dan membela yang memang harus dibela. Tapi aku terlalu takut untuk dianggap sok baik dan takut kedepannya akan dimanfaatkan oleh orang lain. Aku yang memendam sifat feminimku hanya untuk memenuhi peranku sebagai anak pertama yang harus kuat, bisa diandalkan dan tidak menggantungkan diri dan perasaannya kepada orang lain. Bahkan ketika sudah punya kedekatan dengan sesuatu, aku tidak punya keinginan untuk mempertahankan hal itu, tidak punya rasa ingin memiliki dan terlalu mudah untuk melepaskan. Bahkan aku jadi merefleksikan hal tersebut kepada hubungan percintaan ku yang sangat amat zonk. Tidak ada kemajuan ataupun perubahan dalam 5 tahun terakhir. Bahkan Tahun 2025 yang sudah mau berakhir aja. Siang hari ini berubah menjadi siang hari yang mellow dan dramatis. 

Bahagia.
Sore hari dan malam harinya, perasaanku kembali membaik karena obrolan dan komunikasi dengan teman-teman kantor yang dilakukan dengan media daring (online) entah itu whatsapp, discord dan telegram. Jujur aja, sulit banget mengimbangi energi sosial teman-teman sekelompokku ini. Bahkan aku harus menyempatkan diri tertidur selama 30 menit untuk mengisi baterai sosialku. Untuk saat ini, aku bersyukur masih ada mereka di hidupku. Lebih dari cukup untuk membuat perasaanku yang cukup mellow ini menjadi lebih ceria. Anak melankolis ini harus bertarung dengan kehidupan Kota Jakarta yang tidak menerima anak cengeng. Makanya seringkali aku bersembunyi dibalik topeng keceriaan dan kebahagiaan bahkan aku rela latihan lari berkilo-kilo meter untuk membuat jiwa dan raga ini menjadi lebih kuat dan tahan lama menghadapi medan kehidupan Ibukota yang berat ini #asiiik. 

   



Comments

Popular posts from this blog

Satu Hari Sebelum Bulan Agustus Berakhir