Tentangmu, yang tiba-tiba hadir dan membuat sesuatu tumbuh diam-diam
Hai kamu, bolehkah aku tulis sesuatu tentangmu??? Sebuah cerita yang kita biarkan mengalir dan tersembunyi dibalik hingar bingar kehidupan yang lazimnya terekspos ke dunia melalui media sosial. Namun aku dan kamu justru memilih untuk menjadi beda, membiarkannya tumbuh dan berkembang secara perlahan seiring pertambahan usia dan perkembangan kehidupan yang kita jalani, tanpa banyak yang tahu detailnya. Cerita ini, biarkan aku yang tulis dan (aku harap) kamu akan membacanya nanti. Kapankah itu, aku pun juga tidak tahu pasti.
Semestaku sebelum kamu datang adalah sebuah keteraturan. Kalau kata Bung Fiersa Besari, sebuah Konstelasi yang Sistematis karena mengandung Stagnansi yang Konservatif (Garis Waktu - 2016)
Pagiku cerah, matahari terbit tepat waktu, hujan sesekali turun di musim kemarau dan menjadi rutin di musim penghujan, tepatnya di bulan-bulan dengan akhiran BER nya. Badai seringkali datang namun hanya terjadi di wilayah domestik (read: keluarga). Angin berhembus sepoi-sepoi dan tidak membawa kesejukan maupun gersang. Langit kadang cerah, kadang berawan sesuai waktunya. Kehidupan menjadi sangat sederhana karena revolusi planet yang sesuai orbitnya. Aku mencium wangi hujan yang membasahi bumi namun tidak menikmatinya. Aku membaca kalimat dalam sebuah bait puisi namun tetap tidak mengerti dimana letak keindahan kalimat yang aku baca tersebut. Pagi terasa seperti sebuah repetisi yang membosankan, makanan enak yang tersaji di meja makan hanya untuk mengenyangkan logika. Aku lupa menjadi rasanya menjadi manusia.
Dan tiba-tiba kamu hadir. Mengguncang bumi tempatku berpijak dan memorak-porandakan semestaku. Dengan cara yang bahkan aku pun tidak menyadarinya, sampai pada akhirnya aku tertampar dengan keras. Menyadarkanku bahwa ada sesuatu yang sedang tumbuh diam-diam. Kamu memang tidak memintaku atau memaksaku untuk segera tahu apa itu, namun dengan cara yang termanis bahkan mungkin diluar nalar, kamu membuatku merasakan dan mensyukuri segala hal yang cepat atau lambat akan berakhir ini.
Aku tidak ingat sama sekali seperti apa perjumpaan kita untuk pertama kalinya. Entah kata yang terucap, tatapan yang diberikan ataupun gestur tubuh yang tampak. Perjumpaan kita begitu sederhana, tidak sedramatis kisah-kisah ala drama korea. Meski begitu, kamu begitu istimewa, bahkan saat ini aku yakin kalau kamu bukan manusia biasa. Kamu ibarat bumi yang sedang menyamar menjadi matahari dan siap menjadi pusat alam semestaku. Dan aku hanya bisa pasrah karena untuk tahun-tahun berikutnya di kehidupan mendatang, aku akan berevolusi mengelilingi kamu, di dalam sebuah orbit yang terbentuk secara diam-diam pasca kehadiranmu.
Tentangmu, aku yang begitu naif tidak tahu banyak hal dan belum mau tahu. Yang kutahu kamu adalah makhluk cerdas dengan keanehan dan kearifan lokal. Tubuh kecil yang sangat langsing, wajah manis khas pulau jawa, kulit sawo matang dan tingkat kelebatan rambut yang selalu kamu jaga dengan model yang sangat minimalis, alias botak atau cepak. Tutur kata yang baik dan diksi yang sopan. Kamu suka sekali angka dan angka-angka yang kamu hasilkan di laporan enam bulananmu selalu bagus. Yang terakhir, kamu dengan senang hati mengemban tugas dan tanggung jawab terhadap sesuatu, mengurus keuangan, administrasi dan hal lainnya bersamaku. Mengurus puluhan rekan-rekan sejawat yang kadang tidak tahu diri dan sangat senang kucing-kucingan. Dengan kesabaran tinggi membersamai dan membimbing agar menjalani dengan baik. Suatu hal yang tanpa kusadari, di masa depan hal ini yang jstru menjadi daya tarik sekaligus karakter terkuatmu, berani mengambil tanggung jawab dan menjadi pedoman bagi orang banyak, seorang PEMIMPIN.
Nahasnya, semua hal tentangmu itu yang justru membuyarkan fokusku. Bumi tempatku berpijak terguncang dan langit tempatku berlindung berada mulai terbelah, perlahan namun pasti memasuki atmosfir. Satu persatu lapisan pertahanan berhasil dialui dengan cara termanis dan tidak terduga. Perlahan namun pasti kamu mulai hadir dan bahkan menghiasi kesadaranku. Hidupku yang selama ini sangat tenang mulai terusik bahkan terasa janggal tanpa adanya gangguan darimu. Sebuah "Hai, apa kabar? selamat pagi! dan maaf aku ketiduran" darimu selalu sukses membuyarkan fokusku.
Mati-matian aku berkata dan meyakinkan hati bahwa perasaan untukmu hanyalah euforia sesaat yang akan hilang dalam hitungan hari. Seiring berjalannya waktu dan semakin sibuknya diri masing-masing perasaan ini akan pergi. Sesederhana kata darimu maka semudah itu aku kehilangan fokusku dan kembali mencurahkan waktuku kepadamu, membiarkan duniaku terkoneksi denganmu baik nyata maupun maya di segala media yang ada. SMS, Yahoo Messenger, Facebook, Twitter, E-mail, WA, Line hingga Instagram. Perasaan ini bersemi di tempat dan waktu yang sangat amat tidak terduga. Ia mengendap-endap lalu menyusup ke dalam urat nadi, memasangkan peledak di jantung, membuat guncangan ala kupu-kupu berterbangan di perutku lalu meninggalkanku terbakar habis bersama bayang-bayangmu. Dan aku hanya mampu pasrah menjadi korban.
Rasa rindu, terasa mencekik, rasa malu terasa menghantui setiap kali kamu terlihat apalagi menyapa. Memimpikanmu adalah hal yng paling diidamkan, seperti anak kecil yang menginginkan mainan favoritnya. Kamu hanya bisa kupandangi dari lantai atas tempat ruang kelasku berada, dari bagian samping tempat shaf untuk jamaah wanita beribadah dan dari bagian belakang tatkala motor bebek yang kamu naiki melintas atau terlihat setiap senja tiba. Berharap suatu saat kamu akan berhenti atau berbalik mengejar untuk menawarkan tumpangan untukku di ruang bagian belakang motormu yang selalu kosong. Tapi saat itu seringkali langsung kutampar diri sendiri. Bukan! Ini bukan dan belum saatnya. Hatimu bukan untuk kuminta karena itu bukan tugasku. Perasaan yang diam-diam tumbuh kini semakin menjadi-jadi. Maka saat aku menyadarinya, kali ini, aku tidak bisa (dan tidak akan) mengelak.
Aku pasrah jika perasaan ini berada di genggamanmu, cerita-cerita yang kelak mengisi buku jurnal harianku adalah tentangmu, sms yang memenuhi inbox Handphone Nokia seri 7200 adalah darimu dan waktu tidur di hari Sabtu malam yang aku relakan hanya untuk berbincang dengan kamu hingga pagi datang dan adzan subuh sebentar lagi berkumandang.
Tak perlulah aku berpikir jauh, saat itu yang terpenting adalah mengatur siasat agar aku dan kamu berada di posisi yang berimbang. Sama-sama menggenggam dan sama-sama (selalu) siap untuk melepas maupun dilepaskan suatu saat nanti.
Aku pasrah jika perasaan ini berada di genggamanmu, cerita-cerita yang kelak mengisi buku jurnal harianku adalah tentangmu, sms yang memenuhi inbox Handphone Nokia seri 7200 adalah darimu dan waktu tidur di hari Sabtu malam yang aku relakan hanya untuk berbincang dengan kamu hingga pagi datang dan adzan subuh sebentar lagi berkumandang.
Tak perlulah aku berpikir jauh, saat itu yang terpenting adalah mengatur siasat agar aku dan kamu berada di posisi yang berimbang. Sama-sama menggenggam dan sama-sama (selalu) siap untuk melepas maupun dilepaskan suatu saat nanti.



Hai, aku Ria, penulis tulisan ini dari masa depan. Ternyata jawabannya adalah sama-sama melepaskan yaa. Semangat!!!
ReplyDelete