Beasiswa Yayasan Goodwill International
Hai...
Setelah lama membiarkan tulisan ini terpampang dengan isi yang apa adanya, akhirnya terkumpul juga tekad buat merapihkannya. Bukan sibuk, tapi memang dari akunya sih yang gak pernah berusaha meluangkan waktu untuk menulis di blog ini lagi. Lebih memilih buat tidur atau nonton video kalau punya waktu luang... Sedikit pembelaan diri aja ini mah... HAHA, oke kembali ke topik.
Setelah lama membiarkan tulisan ini terpampang dengan isi yang apa adanya, akhirnya terkumpul juga tekad buat merapihkannya. Bukan sibuk, tapi memang dari akunya sih yang gak pernah berusaha meluangkan waktu untuk menulis di blog ini lagi. Lebih memilih buat tidur atau nonton video kalau punya waktu luang... Sedikit pembelaan diri aja ini mah... HAHA, oke kembali ke topik.
Awal dibuatnya tulisan ini, ditujukan buat teman-teman/adek-adek mahasiswa yang tertarik mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi beasiswa dari Yayasan Goodwill International. Kenapa??? Karena aku sendiri adalah salah satu tipe yang selalu ngepoin blog atau tulisan orang lain sebelum ikutan atau gabung ke sesuatu hal. Entah kenapa, tulisan-tulisan di blog pribadi jauh lebih jujur dan bisa lebih informatif. Dan mungkin aja, diluar sana, ada orang-orang yang setipe denganku ketika mereka tertarik mengikuti sesuatu dan pengen tahu dari sudut pandang yang sifatnya lebih pribadi. Makanya jangan heran dan harap maklum aja kalau di tulisan ini nanti bakalan aku kasih rekomendasi bacaan dari blog yang juga aku baca. Secara gak langsung mempromosikan tulisan orang lain secara gratis hehe... #vsign
"selalu ada alasan di balik setiap keputusan yang diambil seseorang"
"selalu ada alasan di balik setiap keputusan yang diambil seseorang"
Nah menurutku, dari sekian banyak jenis beasiswa bergengsi yang berserakan di kampus-kampus negeri/PTN, beasiswa Yayasan Goodwill International harus banget dicoba buat diikutin. Jujur aja, alasan yang pertamaaa banget bikin aku ikutan adalah karena beasiswa ini tidak mensyaratkan adanya surat keterangan tidak mampu dari kelurahan. Seringkali beasiswa yang lagi buka pendaftarannya selalu mensyaratkan hal ini dan itu bikin aku agak kurang "sreg" aja buat ngikutinnya.
Secara finansial, orang tuaku termasuk kategori yang berkecukupan. Daripada harus bohong supaya dapat uang beasiswa yang jauh lebih dibutuhin sama orang lain, jadi aku mencari jalan yang aman supaya tetep dapet barokahnya.... Enggak bisa dipungkiri, kebutuhanku secara finansial perlahan-lahan bertambah sewaktu jadi mahasiswa. Makin berasa banget bertambahnya pas lagi ikut organisasi dan kepanitiaan. Cukup drastis. Ironisnya, tidak semua orang tua bisa kita kasih tahu dan bisa paham. (Hmmm ini murni pendapat pribadi ya...) Nah, di saat kondisi pengeluaran sudah melebihi dari pemasukkan ditambah dengan munculnya perasaan "gak enak" buat minta (lebih), opsinya ada tiga :
1) jadi tutor les privat
2) ngejalanin bisnis kecil-kecil-an buat "memutar" uang saku yang ada
3) yang terakhir adalah dapet beasiswa (opsi ketiga inilah yang aku pilih pada saat itu.
Hal kedua, persaingan yang ketat tapi sehat. Dari sudut pandangku secara pribadi, karena kondisi finansial bukan faktor dominan dalam penilaian di beasiswa ini, maka proporsi penilaian yang menurutku cukup berpengaruh adalah hardskill dan softskill individu. Apa aja itu bentuknya??/ mungkin bakal aku ceritain sedikit, tapi nanti. Intinya, bukan cuma faktor luck/keberuntungan tapi ada faktor usaha yang bisa dimaksimalkan selama proses seleksi nanti. Dan buat tipe individu yang gak mudah percaya dengan faktor keberuntungan dan berpegang teguh dengan prinsip = "usaha tidak akan mengkhianati hasil" (kayak aku), ini patut dicoba.
Ketiga, benefit/manfaat yang diperoleh. Selain bantuan secara finansial, penerima beasiswa ini juga berkesempatan buat gembangin diri, terutama dari segi softskill mulai dari kepemimpinan, ilmu berkomunikasi, sampai pengetahuan tentang persiapan masa-masa pasca kampus alias masa-masa mencari kerja. Ini nih salah satu hal yang mungkin diperoleh cuma dari segelintir beasiswa yang ada. Yang manfaatnya bakal dirasakan bukan hanya sesaat tapi buat seterusnya di masa depan.
"cara terbaik untuk menularkan kebiasan dan semangat berbuat kebaikan adalah dengan keteladanan"
Secara historisnya.... beasiswa Yayaysan Goodwill International ini digagas oleh para ekspatriat yang lagi kerja atau tinggal di Indonesia. Jadi, aslinya program beasiswa ini adalah charity activities-nya orang-orang luar negeri yang berdomisili di Indonesia pada saat itu, sekitar tahun 1999-2000 an pasca Indonesia mengalami krisis moneter. (if I'm not wrong) yang bikin nilai rupiah anjlok, harga barang-barang jadi mahal dan bikin masyarakat kesusahan buat memenuhi kebutuhannya, salah satunya bayar biaya pendidikan. Jadi, jangan kaget kalau beberapa donatur beasiswa ini berupa individu maupun lembaga internasional yang aktif/tidak aktif di Indonesia. Siapa aja, jujur aku lupa... ini seriusan dari luar negeri. Tapi ada juga sih donatur domestik yang mana mereka adalah para alumni yang pernah menerima Beasiswa Goodwill International ini juga tapi sudah sukses berkarir dan berkarya di masyarakat (meskipun ada juga sih yang non alumni, salah satunya donaturku sendiri). Ada yang secara individu, ada juga yang berkelompok dengan teman-teman seangkatannya. Secara gak langsung, bisa dibayangkan-lah yaa betapa keren dan suksesnya yayasan ini dalam mencetak generasi-generasi muda yang berkualitas baik softskill maupun hardskillnya.
Secara finansial, orang tuaku termasuk kategori yang berkecukupan. Daripada harus bohong supaya dapat uang beasiswa yang jauh lebih dibutuhin sama orang lain, jadi aku mencari jalan yang aman supaya tetep dapet barokahnya.... Enggak bisa dipungkiri, kebutuhanku secara finansial perlahan-lahan bertambah sewaktu jadi mahasiswa. Makin berasa banget bertambahnya pas lagi ikut organisasi dan kepanitiaan. Cukup drastis. Ironisnya, tidak semua orang tua bisa kita kasih tahu dan bisa paham. (Hmmm ini murni pendapat pribadi ya...) Nah, di saat kondisi pengeluaran sudah melebihi dari pemasukkan ditambah dengan munculnya perasaan "gak enak" buat minta (lebih), opsinya ada tiga :
1) jadi tutor les privat
2) ngejalanin bisnis kecil-kecil-an buat "memutar" uang saku yang ada
3) yang terakhir adalah dapet beasiswa (opsi ketiga inilah yang aku pilih pada saat itu.
Hal kedua, persaingan yang ketat tapi sehat. Dari sudut pandangku secara pribadi, karena kondisi finansial bukan faktor dominan dalam penilaian di beasiswa ini, maka proporsi penilaian yang menurutku cukup berpengaruh adalah hardskill dan softskill individu. Apa aja itu bentuknya??/ mungkin bakal aku ceritain sedikit, tapi nanti. Intinya, bukan cuma faktor luck/keberuntungan tapi ada faktor usaha yang bisa dimaksimalkan selama proses seleksi nanti. Dan buat tipe individu yang gak mudah percaya dengan faktor keberuntungan dan berpegang teguh dengan prinsip = "usaha tidak akan mengkhianati hasil" (kayak aku), ini patut dicoba.
Ketiga, benefit/manfaat yang diperoleh. Selain bantuan secara finansial, penerima beasiswa ini juga berkesempatan buat gembangin diri, terutama dari segi softskill mulai dari kepemimpinan, ilmu berkomunikasi, sampai pengetahuan tentang persiapan masa-masa pasca kampus alias masa-masa mencari kerja. Ini nih salah satu hal yang mungkin diperoleh cuma dari segelintir beasiswa yang ada. Yang manfaatnya bakal dirasakan bukan hanya sesaat tapi buat seterusnya di masa depan.
"cara terbaik untuk menularkan kebiasan dan semangat berbuat kebaikan adalah dengan keteladanan"
Secara historisnya.... beasiswa Yayaysan Goodwill International ini digagas oleh para ekspatriat yang lagi kerja atau tinggal di Indonesia. Jadi, aslinya program beasiswa ini adalah charity activities-nya orang-orang luar negeri yang berdomisili di Indonesia pada saat itu, sekitar tahun 1999-2000 an pasca Indonesia mengalami krisis moneter. (if I'm not wrong) yang bikin nilai rupiah anjlok, harga barang-barang jadi mahal dan bikin masyarakat kesusahan buat memenuhi kebutuhannya, salah satunya bayar biaya pendidikan. Jadi, jangan kaget kalau beberapa donatur beasiswa ini berupa individu maupun lembaga internasional yang aktif/tidak aktif di Indonesia. Siapa aja, jujur aku lupa... ini seriusan dari luar negeri. Tapi ada juga sih donatur domestik yang mana mereka adalah para alumni yang pernah menerima Beasiswa Goodwill International ini juga tapi sudah sukses berkarir dan berkarya di masyarakat (meskipun ada juga sih yang non alumni, salah satunya donaturku sendiri). Ada yang secara individu, ada juga yang berkelompok dengan teman-teman seangkatannya. Secara gak langsung, bisa dibayangkan-lah yaa betapa keren dan suksesnya yayasan ini dalam mencetak generasi-generasi muda yang berkualitas baik softskill maupun hardskillnya.
Setelah cerita sedikit tentang beasiswa ini dari sudut pandang pribadi penulis saatnya bercerita tentang hal-hal teknis yang berkaitan dengan proses pendaftaran.
Informasi pembukaan pendaftaran beasiswa ini biasanya diumumkan oleh pihak Rektorat Kampus IPB Dramaga di Bulan Desember. Info pendaftarannya bisa dilihat oleh teman-teman mahasiswa S1 di laman Beasiswa IPB dengan persyaratan (FYI, ini persyaratan di jaman aku daftar yaa, bisa berubah sewaktu-waktu, sesuai keputusan pihak yayasan dan kampus) :
Persyaratan yang harus dipenuhi gak rumit dan gak susah kaaan?
"Mau berjuang dan bekerja keras"
Kenapa? Buat beasiswa yang nantinya bakal ngasih manfaat yang cukup banyak buat penerimanya ini, punya proses seleksi yang bisa dibilang cukup menantang dan gak semudah beasiswa lain yang ngasih manfaat dalam bentuk yang biasa aja. Nantinya bakalan ada masa penuh perjuangan yang dilanjutkan dengan masa penuh ketidakpastian yang butuh banget kesabaran tingkat dewa juga masa-masa persaingan tidak kasat mata yang harus dihadapi. (saingannya sesama mahasiswa IPB dan UI). Dimana temen seperjuangan bisa jadi rival dan rival yang kita temui di depan mata bakalan jadi teman di masa mendatang. Cukup lebay??? haha... Dari semua ke-lebay-an yang kuceritain itu, secara garis besar, proses seleksinya sih terdiri dari 4 tahap aja :
1. Mengisi formulir pendaftaran beasiswa
Oia, buat dapet inspirasi dalam pengisian formulirnya, waktu itu aku sangat terbantu dengan tulisan salah satu alumni yang dengan baiknya mau berbagi tips. Yaah, alhamdulilllah gak galau seorang diri dan pusing-pusing gak jelas haha #lebayemang. Monggo di cek disini :
Informasi pembukaan pendaftaran beasiswa ini biasanya diumumkan oleh pihak Rektorat Kampus IPB Dramaga di Bulan Desember. Info pendaftarannya bisa dilihat oleh teman-teman mahasiswa S1 di laman Beasiswa IPB dengan persyaratan (FYI, ini persyaratan di jaman aku daftar yaa, bisa berubah sewaktu-waktu, sesuai keputusan pihak yayasan dan kampus) :
- Mahasiswa S1 Regular
- Semester 3 - 5
- IPK Terakhir minimal 3.00
- Daftar Online Wajib bit.ly/goodwill2016
- Formulir download disini atau ambil di Loket Beasiswa
- Pengumpulan Berkas terakhir 10 Desember 2015 di :
Loket Beasiswa
Gedung Andi Hakim Nasoetion Lt. 1
Persyaratan yang harus dipenuhi gak rumit dan gak susah kaaan?
Kenapa? Buat beasiswa yang nantinya bakal ngasih manfaat yang cukup banyak buat penerimanya ini, punya proses seleksi yang bisa dibilang cukup menantang dan gak semudah beasiswa lain yang ngasih manfaat dalam bentuk yang biasa aja. Nantinya bakalan ada masa penuh perjuangan yang dilanjutkan dengan masa penuh ketidakpastian yang butuh banget kesabaran tingkat dewa juga masa-masa persaingan tidak kasat mata yang harus dihadapi. (saingannya sesama mahasiswa IPB dan UI). Dimana temen seperjuangan bisa jadi rival dan rival yang kita temui di depan mata bakalan jadi teman di masa mendatang. Cukup lebay??? haha... Dari semua ke-lebay-an yang kuceritain itu, secara garis besar, proses seleksinya sih terdiri dari 4 tahap aja :
1. Mengisi formulir pendaftaran beasiswa
Di tahap ini,kamu bakal menemukan formulir pendaftaran yang extraordinary bentuknya dan harus diisi dengan jangka waktu yang cukup pendek (menurutku). Tapi aku gak khawatir siiiih kalau hal ini bakalan susah buat dilakukan sama mahasiswa UI dan IPB. Karena kuyakin udah terbiasa banget SKS(sistem kebut semalam) plus ngerjain tugas dalam kondisi penuh tekanan haha. Apalagi yang kuliahnya di jurusan yang banyak praktikkum dan harus ngerjain laporan... udah punya modal banget ituuu! FYI, formulir-formulir ini harus diisi dengan bahasa inggris. Yang dibutuhin buat tahap ini sih, kemampuan bahasa inggris secara tertulis aja, yang mana nak-anak mahasiswa udah cincai lah kemampuannya... gak usah diragukan.
Oia, buat dapet inspirasi dalam pengisian formulirnya, waktu itu aku sangat terbantu dengan tulisan salah satu alumni yang dengan baiknya mau berbagi tips. Yaah, alhamdulilllah gak galau seorang diri dan pusing-pusing gak jelas haha #lebayemang. Monggo di cek disini :
2. Menunggu Panggilan Wawancara
Menunggu adalah hal yang sulit dan berat yaa, apapun itu yang ditunggu (atau siapapun itu yang ditunggu #ehjadicurhat). Waktu itu, aku harus menunggu sekitar dua bulan sampai mendapat "panggilan" untuk wawancara. lumayan sih dua bulan....
Waktu itu, dapat telepon dari seorang wanita cantik nan baik hati bernama Mbak Mierna. Mbaknya yang akan menanyakan kesanggupan kita untuk melakukan wawancara pada tanggal yang telah ditentukan. Kalau bisa sih sebaiknya disanggupi tapiii kalau tidak bisa sebaiknya jujur aja. Nantinya akan dicarikan waktu yang lebih baik. Kalau memang serius dan niat untuk dapat beasiswa ini harus banget mau meluangkan waktu pada hari wawancara tersebut. Wawancara biasanya baru dimulai pukul 10 siang. Jadi atang telat bisa-bisa dapet giliran terakhir dan selesai sore. Alhasil sampai kembali di Kampus IPB Dramaga Magrib atau Isya. Saran aku sih, kalau sudah dapat tanggal dan waktunya, segera catet aja atau kalau perlu lingkari kalender di kosan besar-besar dengan tinta merah atau stabilo warna pink atau hijau ngejreng supaya gak kelupaan.(itumah aku banget hehe)
Waktu itu, dapat telepon dari seorang wanita cantik nan baik hati bernama Mbak Mierna. Mbaknya yang akan menanyakan kesanggupan kita untuk melakukan wawancara pada tanggal yang telah ditentukan. Kalau bisa sih sebaiknya disanggupi tapiii kalau tidak bisa sebaiknya jujur aja. Nantinya akan dicarikan waktu yang lebih baik. Kalau memang serius dan niat untuk dapat beasiswa ini harus banget mau meluangkan waktu pada hari wawancara tersebut. Wawancara biasanya baru dimulai pukul 10 siang. Jadi atang telat bisa-bisa dapet giliran terakhir dan selesai sore. Alhasil sampai kembali di Kampus IPB Dramaga Magrib atau Isya. Saran aku sih, kalau sudah dapat tanggal dan waktunya, segera catet aja atau kalau perlu lingkari kalender di kosan besar-besar dengan tinta merah atau stabilo warna pink atau hijau ngejreng supaya gak kelupaan.(itumah aku banget hehe)
3. Melakukan Wawancara/Interview
Tahap ini menurutku tahapan yang paling seru dan paling mendebarkan... Aku tipikal orang yang gampang grogi dan cukup kaku kalau ketemu dan ngobrol sama orang baru. Tahap seleksi ini dilakukan di basecamp nya Goodwill yang waktu itu terletak di JL. Pisang No. 27 Pasar Minggu, 12520, Indonesia.
Perjuangan selanjutnya, dari tahapan seleksi ini adalah berkelana ke daerah Pasar Minggu untuk mencari lokasinya. Beruntung banget, sekarang udah ada commuter line yang memudahkan perjalanan dari kampus. Tinggal turun di Stasiun Pasar Minggu dan naik ojek online ataupun ojek yang mangkal di depan stasiun. Rata-rata para sih "abang-abang" ojek udah pada tahu loooh lokasi rumah Goodwill. FYI, jangan bingung sih yaa kalau udah sampai disana. Tampilan basecamp yayasan ini nya lebih mirip rumah hunian daripada kantor, karena emang bentuknya rumah bangeeet!
Perjuangan selanjutnya, dari tahapan seleksi ini adalah berkelana ke daerah Pasar Minggu untuk mencari lokasinya. Beruntung banget, sekarang udah ada commuter line yang memudahkan perjalanan dari kampus. Tinggal turun di Stasiun Pasar Minggu dan naik ojek online ataupun ojek yang mangkal di depan stasiun. Rata-rata para sih "abang-abang" ojek udah pada tahu loooh lokasi rumah Goodwill. FYI, jangan bingung sih yaa kalau udah sampai disana. Tampilan basecamp yayasan ini nya lebih mirip rumah hunian daripada kantor, karena emang bentuknya rumah bangeeet!
Oia, sedikit saran, sebaiknya pakai pakaian yang rapih yaa tapi tetep nyaman. Gak harus formal-formal banget... Baju kuliah juga boleh asal keliatan rapih dan cakepan dikit lah yaa. Biar bisa tetep jadi diri sendiri aja. Saking nyamannya gak pake sendal jepit juga sih.... Karena tahap wawancara ini adalah tahap yang cukup menentukan dari beberapa tahap seleksi ini. Inget, kesan pertama biasanya punya peran penting terhadap penilaian seseorang.
Di ruang wawancara nantinya bakalan ketemu dengan Ibu Koordinator dari beasiswa ini, Bu Mien namanya. Walau sudah tidak muda lagi tapi tetep keren, keliatan masih cantik dan supeeel banget! Kalau beruntung, akan ada beberapa native alias orang bule yang jadi patner Bu Mien dan yang mewawancarai nantinya. Harus maksimal sih... Bisa aja, native tersebut jadi calon donatur kita nantiya. Grogi, parah waktu itu, tapi alhamdulillah cuma bentar karena dari Bu Mien bener-bener dibawa santai aja kayak lagi diskusi. Mereka akan lebih banyak bertanya tentang diri calon penerima beasiswa. Terutama tentang informasi-informasi yang ditulis di dalam formulir pendaftaran. Saran aku, sambil menunggu hari-H wawancara, coba baca-baca lagi tulisan yang dibuat sewaktu mengisi formulir pendaftaran. Selain itu, pemanasan bicara bahasa inggris dengan teman atau nonton film sambil meniru-niru ucapan pemainnya juga boleh. Usahakan memperbanyak kosakata supaya bisa banyak bicara dan ngobrol dengan seru selama wawancara. :)
Di ruang wawancara nantinya bakalan ketemu dengan Ibu Koordinator dari beasiswa ini, Bu Mien namanya. Walau sudah tidak muda lagi tapi tetep keren, keliatan masih cantik dan supeeel banget! Kalau beruntung, akan ada beberapa native alias orang bule yang jadi patner Bu Mien dan yang mewawancarai nantinya. Harus maksimal sih... Bisa aja, native tersebut jadi calon donatur kita nantiya. Grogi, parah waktu itu, tapi alhamdulillah cuma bentar karena dari Bu Mien bener-bener dibawa santai aja kayak lagi diskusi. Mereka akan lebih banyak bertanya tentang diri calon penerima beasiswa. Terutama tentang informasi-informasi yang ditulis di dalam formulir pendaftaran. Saran aku, sambil menunggu hari-H wawancara, coba baca-baca lagi tulisan yang dibuat sewaktu mengisi formulir pendaftaran. Selain itu, pemanasan bicara bahasa inggris dengan teman atau nonton film sambil meniru-niru ucapan pemainnya juga boleh. Usahakan memperbanyak kosakata supaya bisa banyak bicara dan ngobrol dengan seru selama wawancara. :)
Sempat baca juga nih tulisan dari mahasiswa IPB tentang pengalamannya selama wawancara, monggo dibaca: Sepenggal Cerita-Wawancara Goodwill
4. Pengumuman Penerimaan Beasiswa
Dari semua tahap, ini sih yang paling bikin galau. Apalagi buat mahasiswa IPB. Bisa dibilang statusnya "GANTUNG" sih kayak hubungan kita? #Eh (hahabercanda). Jadi di IPB tuh, kalau sedang dalam tahap seleksi suatu beasiswa dan ingin mendaftarkan diri ke beasiswa lain, boleh-boleh aja tapi kemungkinan berkasnya akan dipisahkan sama pihak penyeleksi di Ditmawa IPB. Kenapa gitu??? karena udah dianggap sebagai penerima beasiswa tsb. Bagusnya dari sistem yang kayak gini adalah.... bisa ngasih kesempatan ke mahasiswa-mahasiswa lainnya yang belum rejeki dan berhasil dapet beasiswa. Padahal aslinya mah masih belum lulus juga kitanya. Tapi gapapa sih... ku tetap ber-positive thinking aja waktu itu.
![]() |
| KKN-P IPB 2015 Dok: Pribadi |
Lamanya waktu tunggu yang aku alamin ini sampe enam bulan lamanya. Dari akhir semester 5 sampai awal semester 7 coyyy. Lumayaan. Selama enam bulan itu, sebenarnya sedang diperjuangkan dan dipertimbangkan sih, kira-kira ada donatur yang cocok gak dengan profile dan nilai hasil seleksi kita. Jadi waktu itu banyak-banyakin do'a dan nurut sama orang tua aja sih yaa....
Setelah enam bulan berlalu, akhirnya dapet juga kabar yang ditunggu-tunggu. Waktu itu pengumumannya di bulan Agustus. Sebulan sebelum mulai masuk kuliah lagi dan lagi pada KKN-P atau PKL. Jadi pastikan baterai hape dan paket internetnya bagus sih yaa. Kalau perlu, beli operator yang sinyalnya bagus deh di daerah KKN-P nya supaya gak susah dihubungi oleh pihak yayasan beasiswa. Nantinya sih bakalan diminta nomor rekening bank yang aktif sama fotokopi buku tabungan. Kebetulan di tahun 2015, bank yang digunakan adalah bank BNI. Alhasil, harus izin dari tempat KKN-P buat bikin rekening BNI karena selama ini jadi nasabah setia Bank Mandiri. Hehe. Jadi punya alesan buat pulang dari tempat KKN. #vsign
"Akhir cerita yang jadi awal cerita baru"
Setelah enam bulan berlalu, akhirnya dapet juga kabar yang ditunggu-tunggu. Waktu itu pengumumannya di bulan Agustus. Sebulan sebelum mulai masuk kuliah lagi dan lagi pada KKN-P atau PKL. Jadi pastikan baterai hape dan paket internetnya bagus sih yaa. Kalau perlu, beli operator yang sinyalnya bagus deh di daerah KKN-P nya supaya gak susah dihubungi oleh pihak yayasan beasiswa. Nantinya sih bakalan diminta nomor rekening bank yang aktif sama fotokopi buku tabungan. Kebetulan di tahun 2015, bank yang digunakan adalah bank BNI. Alhasil, harus izin dari tempat KKN-P buat bikin rekening BNI karena selama ini jadi nasabah setia Bank Mandiri. Hehe. Jadi punya alesan buat pulang dari tempat KKN. #vsign
"Akhir cerita yang jadi awal cerita baru"
Setelah melalui empat tahap ini resmilah sudah menjadi penerima beasiswa. Uang beasiswa akan dikirimkan secara rutin setiap bulannya, selama satu tahun. Nantinya, setiap bulannya akan dapat e-mail dari pengurus yayasan Goodwill berupa informasi tentang materi pelatihan, apa aja tugas-tugasnya dan tentunya info kalau uang beasiswa udah di transfer ke rekening masing-masing. Jadi jangan males aja sih buat buka dan baca e-mail dari pihak yayasan. Oia satu lagi, jangan males buat konfirmasi kalau uang beasiswanya udah masuk. Karena itu bentuk terimakasih juga sih ke pihak yayasan sekaligu memastikan uang tersebut sampe ke orang yang benar!
Oia, seperti yang udah kuceritain sebelumnya, kalau setiap bulannya akan ada training yang ilmunya bermanfaat banget karena pematerinya keren-keren dan profesional banget di bidangnya. Sangat-sangat sayang buat dilewatkan, apalagi ini cuman sebulan sekaliiii. Selain ilmu, biasanya juga dapet konsumsi loooh, mulai dari snack pagi, makan siang sampe snack sore. Karena pelatihannya mulai dari pagi sampe sore dan pihak yayasan peduli banget sama nutrisi anak-anak penerima beasiswanya. Konsumsi ini bagian dari donasi juga loooh. Salah satu menu makan siang yang paling sering dan dinanti adalah satu set nasi padang yang alhamdulilaaah niqmat banget!!!
Gak bakal rugilaaaah pokoknya! Pengalamannya, euforianya, semangatnya, kebersamaannya dan kejutan-kejutan lainnya bakalan dirasain sendiri deh nanti kalau udah jadi penerima beasiswa ini. Syaratnya yaaa itu, harus mau berjuang dan kerja keras dulu diawal. Setelah berakhirnya cerita tentang perjuangan dan kerja keras selama proses seleksi, udah ada cerita tentang perjuangan dan kerja keras baru yang menanti di depan sana! Apapun itu Semangat!!! Semoga berhasil....
Oia, seperti yang udah kuceritain sebelumnya, kalau setiap bulannya akan ada training yang ilmunya bermanfaat banget karena pematerinya keren-keren dan profesional banget di bidangnya. Sangat-sangat sayang buat dilewatkan, apalagi ini cuman sebulan sekaliiii. Selain ilmu, biasanya juga dapet konsumsi loooh, mulai dari snack pagi, makan siang sampe snack sore. Karena pelatihannya mulai dari pagi sampe sore dan pihak yayasan peduli banget sama nutrisi anak-anak penerima beasiswanya. Konsumsi ini bagian dari donasi juga loooh. Salah satu menu makan siang yang paling sering dan dinanti adalah satu set nasi padang yang alhamdulilaaah niqmat banget!!!
Gak bakal rugilaaaah pokoknya! Pengalamannya, euforianya, semangatnya, kebersamaannya dan kejutan-kejutan lainnya bakalan dirasain sendiri deh nanti kalau udah jadi penerima beasiswa ini. Syaratnya yaaa itu, harus mau berjuang dan kerja keras dulu diawal. Setelah berakhirnya cerita tentang perjuangan dan kerja keras selama proses seleksi, udah ada cerita tentang perjuangan dan kerja keras baru yang menanti di depan sana! Apapun itu Semangat!!! Semoga berhasil....


hallo kak, wah tulisannya sangat bermanfaat. aku mau tanya-tanya lebih tentang ini, adakah kontak yg bisa dihubungi? terima kasih
ReplyDelete